Rindu

Dan aku merindukan saat kita tengah bersama
Ketika hutan telah menundukkan pandangannya
Tepat saat awan merah perlahan mulai menghilang
Aku merasakan kehangatanmu begitu lekat
Mendekap dalam dinginku yang sangat

Dan aku tahu kau tak kan pernah menghilang
Meski malam telah merenggut cahaya siang
Saat aku sudah jauh begitu tertinggal
Kau selalu menungguku di bawah bayang pepohonan
Setiap gerak daunnya seakan bernyanyi untuk kita

Dan aku begitu teringat tentang sebuah wajah
Yang teduh di bawah awan dan purnama
Yang tenang seperti savana terhampar
Aku merindukan saat kita tengah bersama
Di balik bayangan petang saat tiba menjelang.

Yogyakarta, 20 Safar 1439/ 9 Noopember 2017.

Iklan

Waktumu

Aku,
bukan orang yang mengenalmu
dalam hal apapun, pada sesuatu yang kita kenal
dan terlupakan
namun dalam perjuangan, bersama harapan,
kita terasa begitu dekat
seperti senja dan kala matahari saat terbenamnya.

Duhai, kau yang telah kembali
meninggalkan sedih dan kenangan
kami bersamamu dalam nirwana yang biru
saat selesai membawakan doa
meski fajar sampai menyingsing
mengikat lemba-lembar Al-Qur’an yang pernah kau ajarkan
bila ada masa terakhir saat bersamamu
sholat untukmulah waktunya.

Yogyakarta, 15 Sya’ban 1436/ 1 Juni 2015.

Sebuah Mata

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang bersembunyi di balik huru-hara
Ia tak mengenal kata atau menyaksikan rupa
Membiarkan semua membentuk pola
Yang gelap, merah, dan menyala

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang menyimpan kenangan jingga
Tak hirau alasan dan siapa pelakunya
Yang telah membentuknya
Menjadi pola yang gelap, merah, dan menyala

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang gelap, merah, dan menyala.

Yogyakarta, 19 Jumadal Akhirah 1438/ 17 Maret 2017

Kedua

Kasih, masihkah kau duduk di pelataran pohon-pohon cemara
pucuknya menyanyikan lagu kesukaanmu
ketika lembah berubah merah
oleh redup cahaya cinta kita?
Jangan engkau terlalu lama menunggu
hingga kabut benar-benar membawamu
dan tak kujumpai lagi
pada telekan kita bertemu.

Aku memang tak lagi di sini
di hatimu yang lelah
sudahlah,
tak lagi kujumpai pohon-pohon cemara itu
dulu senja kita
sejak Tuhan membuka pintu ajalku.

Yogyakarta, 21 Jumadal Ula 1436/ 12 Maret 2015.

Ladang Gersang

Jiwa ini telah rapuh bagai gubuk tua pada tengah ladang yang tak digarap lagi.
Karena telah ditinggal oleh pemiliknya yang lelah menunggu hujan.
Hamparan itu kini ditumbuhi batu, tanah yang berupa cadas, dan beberapa rumput liar.
Kemudian ditancapkanlah sebuah papan nama yang bertuliskan, “Tanah milik kami.”

Sang pemilik telah merantau ke kota untuk mencari lahan yang lebih subur dan musim yang mendukung.
Sehingga bisa panen beras, sayur mayur, dan ayam yang berlimpah tanpa takut merugi.
Namun, bukan tanah yang dicangkulnya, tapi beton dan besi, yang ditancapkan di atasnya sebuah papan bertuliskan, “Tanah milik perusahaan”.

Yogyakarta, 20 Jumadal Ula 1437/ 29 Februari 2016.

Hujan di Bulan Januari

Hujan di akhir bulan Januari
Kurasakan engkau rebah di sebelahku
Pada gubuk kecil di sebuah pelataran
Sedikit angin membawa gerimis masuk
Engkau semakin mendekap dalam hangat

Hujan di akhir bulan Januari
Kudengar tangismu yang berderu
Dalam imajinasiku yang tak biasa
Sudah cukuplah sedihmu
Di sini ingin ku meloncat ke sana

Hujan di akhir bulan Januari
Kusaksikan beda seperti yang dulu
Rasa yang ku punya pun jua
Semua jadi mudah dan cepat berlalu
Dingin oleh hujan, di hati ada

Hujan di akhir bulan Januari
Tentang seseorang dalam sebuah genangan hujan.

Yogyakarta, 10 Robi’ul Akhir 1437/ 20 Januari 2016.