Kamu

Ana, kau selalu mengajakku untuk ke luar rumah dan itu hampir setiap malam. Sebelum teh panas kau habiskan, kau sudah beranjak ke luar pintu dan membiarkannya tetap terbuka. Lalu kau panggil namaku. Dan bergegaslah aku mengikutimu dari belakang. Kakimu yang kecil, tanganmu yang lemah, dan tubuhmu yang tak tahan dingin selalu kau paksakan. Malam ini … Continue reading Kamu

Tabir Waktu

Hari masih berselimut kabut musim penghujan. Bintik-bintik cahaya langit yang malu pada terangnya cahaya kota bersembunyi di balik awan yang berjalan tergesa. Terkadang terdengar daun yang jatuh, lalu berlarian diterpa angin yang membuat linu sendi-sendi lengan dan kaki. Jalan lebar yang lengang. Rumah-rumah yang ramai oleh cahaya lampu. Hewan-hewan bercengkerama dengan perannya yang unik untuk … Continue reading Tabir Waktu