Fitnah

Lihatlah,
Wajah cantikmu banyak ditatap orang
Membuat mata para lelaki semakin menjadi
Apakah aku tidak berhak cemburu?

Tengoklah,
Tubuh indahmu banyak dilirik orang
Membuat lamunan para lelaki semakin menjadi
Apakah aku tidak berhak cemburu?

Perhatikanlah,
Kata dan tingkahmu banyak diperhatikan orang
Membuat nafsu para lelaki semakin menjadi
Apakah aku tidak berhak cemburu?

Sejak kau “posting” segala tentangmu
Kau seakan bukan milikku lagi.

Yogyakarta, 4 Robi’ul Awwal 1439/ 22 Nopember 2017.

Iklan

Rindu

Dan aku merindukan saat kita tengah bersama
Ketika hutan telah menundukkan pandangannya
Tepat saat awan merah perlahan mulai menghilang
Aku merasakan kehangatanmu begitu lekat
Mendekap dalam dinginku yang sangat

Dan aku tahu kau tak kan pernah menghilang
Meski malam telah merenggut cahaya siang
Saat aku sudah jauh begitu tertinggal
Kau selalu menungguku di bawah bayang pepohonan
Setiap gerak daunnya seakan bernyanyi untuk kita

Dan aku begitu teringat tentang sebuah wajah
Yang teduh di bawah awan dan purnama
Yang tenang seperti savana terhampar
Aku merindukan saat kita tengah bersama
Di balik bayangan petang saat tiba menjelang.

Yogyakarta, 20 Safar 1439/ 9 Noopember 2017.

Waktumu

Aku,
bukan orang yang mengenalmu
dalam hal apapun, pada sesuatu yang kita kenal
dan terlupakan
namun dalam perjuangan, bersama harapan,
kita terasa begitu dekat
seperti senja dan kala matahari saat terbenamnya.

Duhai, kau yang telah kembali
meninggalkan sedih dan kenangan
kami bersamamu dalam nirwana yang biru
saat selesai membawakan doa
meski fajar sampai menyingsing
mengikat lemba-lembar Al-Qur’an yang pernah kau ajarkan
bila ada masa terakhir saat bersamamu
sholat untukmulah waktunya.

Yogyakarta, 15 Sya’ban 1436/ 1 Juni 2015.

Sebuah Mata

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang bersembunyi di balik huru-hara
Ia tak mengenal kata atau menyaksikan rupa
Membiarkan semua membentuk pola
Yang gelap, merah, dan menyala

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang menyimpan kenangan jingga
Tak hirau alasan dan siapa pelakunya
Yang telah membentuknya
Menjadi pola yang gelap, merah, dan menyala

Tiada yang lebih indah dari sebuah mata
Yang gelap, merah, dan menyala.

Yogyakarta, 19 Jumadal Akhirah 1438/ 17 Maret 2017

Kamu

Ana, kau selalu mengajakku untuk ke luar rumah dan itu hampir setiap malam. Sebelum teh panas kau habiskan, kau sudah beranjak ke luar pintu dan membiarkannya tetap terbuka. Lalu kau panggil namaku. Dan bergegaslah aku mengikutimu dari belakang. Kakimu yang kecil, tanganmu yang lemah, dan tubuhmu yang tak tahan dingin selalu kau paksakan. Malam ini masih lembab oleh hujan tadi sore. Bisa dipastikan jalan-jalan jadi becek dan licin. Baca lebih lanjut