Kamu

Ana, kau selalu mengajakku untuk ke luar rumah dan itu hampir setiap malam. Sebelum teh panas kau habiskan, kau sudah beranjak ke luar pintu dan membiarkannya tetap terbuka. Lalu kau panggil namaku. Dan bergegaslah aku mengikutimu dari belakang. Kakimu yang kecil, tanganmu yang lemah, dan tubuhmu yang tak tahan dingin selalu kau paksakan. Malam ini masih lembab oleh hujan tadi sore. Bisa dipastikan jalan-jalan jadi becek dan licin.

Kali ini kau ajak aku ke hutan. Katamu kau akan mencari bintang laut di sana. Bintang laut yang memiliki bintik-bintik cahaya di sekujur tubuhnya. Jumlahnya jutaan, yang biasa menempel pada batang, daun, di atas lumut, dan rerumputan.

“Dari mana kau tahu?”, kataku. Kau terus saja melangkah sambil bicara tanpa kutahu apa maksud perkataanmu. Intinya semua itu ada, atau lebih tepatnya harus ada. Bukankah bintang laut hidupnya di laut bukan di daratan apalagi di hutan? Apakah benar ada bintang laut yang memiliki bintik-bintik bercahaya di sekujur tubuhnya? Kau terlalu memimpikan hal-hal yang tak ada dan tak mungkin terjadi. Mimpi yang selalu kau lukis hampir setiap malam, bukan dalam tidurmu tapi dalam khayalanmu. Tapi, entah mengapa semua mimpi-mimpimu itu selalu ada dan menjadi kenyataan.

Aku senang ketika kau menyiapkan kopi panas dan tela goreng untukku. Saat kau berdandan di depan cermin dengan pakaian kesukaanmu. Dan ketika kamu menyirami bunga-bunga di halaman rumah. Atau saat kau duduk merajut benang untuk dijadikan syal. Meskipun dalam hari-harimu, kau lebih sering bermain dalam mimpi-mimpimu.

Sudah berapa belokan, banyak tanjakan dan turunan, hingga beberapa cabang jalan setapak yang kita lalui, tapi tak kunjung sampai tempat yang katamu banyak bintang laut bercahaya itu. Bulan pun telah tepat berada di atas kita, cahayanya menembus ranting dan daun-daun pepohonan hutan. Dan suasana pun menjadi semakin tenang, tanpa suara, lalu menjadi hampa.

“Tetaplah di rumah. Jangan ke mana-mana yah. Mas gak mau adek sakit atau kenapa-kenapa. Mas sayang adek.”, kalimat ini yang selalu aku ucapkan sebelum berangkat kerja. Namun, aku lebih sering berada di rumah, bersamamu dan mimpi-mimpimu.

Sesekali aku harus merapikan kerudung birumu, yang terkadang miring ke kanan dan ke kiri. Tangan ini menjadi waspada untuk menghalaumu dari memegang tumbuhan berduri atau menjagamu agar tidak terperosok ke lubang akibat jalan yang samar-samar terlihat. Dan mengusir hewan-hewan liar yang mengganggumu.

“Mengapa aku selalu ke luar rumah seperti ini? Karena tak aku temukan mimpi-mimpiku di rumah? Bahkan kau pun tak pernah mengerti? Setiap malam, hampir setiap malam!” Aku tak pernah bisa menahan langkahmu untuk pergi mencari mimpi-mimpimu. Dan tak mungkin kubiarkan kau pergi sendiri ketika waktu sudah mendekati senja, atau saat malam seperti ini, bahkan saat siang hari pun tidak.

Rasa kehilangan, kesedihan, dan ketakutan berubah menjadi kabut-kabut senja. Saat kau mulai sadarkan diri, aku tahu bahwa sejak saat itu aku telah kehilanganmu. Ingin ku membawamu kembali, meski kau sangat ingin bersama anak pertama kita. Aku pun juga. Tapi, tabir kematian tak mungkin bisa ditembus, sebelum saatnya nanti sampai batas yang telah ditetapkan.

Tiba-tiba langkahmu terhenti. Kepalamu tertunduk dan telapak tanganmu menutup paras cantikmu. Sudah bisa kupastikan kalau kau menangis. Apakah aku harus memelukmu lagi? Dan mengusap air mata yang membasahi pipimu? Seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan hari-hari yang telah berlalu.

“Sudah kau temukan? Di mana tempatnya?”, tanyaku lirih.

Kemarin lusa kau perlihatkan padaku sebuah kota yang terlihat di atas langit malam saat bintang-bintang terlihat tak terhitung jumlahnya. Kau katakan itu adalah kota para kunang-kunang. Pernah pula kau perlihatkan padaku bola semesta yang di dalamnya berisi matahari, planet, bintang, bulan, dan komet. Bola itu ada di dalam telapak tanganmu. Entah sudah tak terhitung lagi mimpi-mimpi yang kau tunjukkan padaku.

“Lihat! Itu dia bintang lautnya. Cantik. Indah, bukan? Cahayanya putih. Ada di mana-mana.” Kau tampak riang, terlihat dari pancaran bola matamu dan senyum yang menunjukkan gigi putihmu. Menyaksikan jutaan bintang laut yang bercahaya. Menempel pada batang, daun, di atas lumut, dan rerumputan. Tepat di bawah cahaya bulan yang jatuh di antara sela-sela ranting dan daun pepohonan hutan.

Entah siapa yang memilikimu di sana. Pikiran ini yang selalu teriang dalam benakku. Apakah para malaikat sudah memiliki nafsu sehingga mereka jatuh cinta kepadamu dan ingin memilikimu? Atau iblis yang iri dan dengki dengan kebahagiaan kita? Mungkinkah alam merasa tak puas dengan segala keindahan yang dimilikinya sehingga harus menjadikanmu bagian dari mereka? Cepat-cepat kuhilangkan prasangka ini. Tak ingin pahala yang telah kuusahakan dengan payah menguap habis.

Aku hanya tersenyum sambil tetap kuat berdiri menyaksikanmu. Namun tetap saja air mata ini selalu ke luar, melihatmu seperti ini terus. Selalu aku kuatkan, betapa lelahnya hati ini terus terkikis kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu karena telah menemukan mimpi-mimpimu. Air mata yang jatuh berubah butir-butir bak permata berkilauan. Butir-butir air mata itulah yang aku jual di pasar untuk menghidupi kita selama ini.

Sampai kapan pun tak kan kuserahkan kau pada perawat-perawat di bangsal sana. Karena mereka tak benar-benar merawatmu. Tak kuhiraukan perkataan orangtua dan adik-adikku. Omongan orang-orang desa yang mengatakan kau gila. Kau akan tetap tinggal bersamaku di rumah. Sebuah rumah kecil yang dulu menjadi mimpi kita bersama.

Kau tahu? Dalam berkas ini sudah tertuliskan nama kita. Pekan ini aku dan kau akan berangkat ke Tanah Suci. Semoga kau menemukan mimpimu di sana. Yaitu mengenalku seutuhnya, lagi.

Yogyakarta, 15 Jumadil Awal 1437/ 24 Februari 2016.

Kau

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s