Jiwa ini telah rapuh bagai gubuk tua di tengah ladang yang dibiarkan.
Telah ditinggal yang lelah menunggu hujan.
Hamparan itu kini ditumbuhi batu dan beberapa rumput liar.
Kemudian ditancapkanlah sebuah papan nama yang bertuliskan, “Tanah ini dijual.”

Telah merantau ke kota untuk lahan yang lebih subur dan musim yang mendukung.
Sehingga bisa panen beras, sayur mayur, dan ayam yang berlimpah tanpa ragu.
Namun, bukan tanah yang dicangkulnya, tapi beton dan besi.
Yang ditancapkan di atasnya sebuah papan bertuliskan, “Tanah milik perusahaan”.

Yogyakarta, 20 Jumadal Ula 1437/ 29 Februari 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s