Kelima

Jiwa ini telah rapuh bagai gubuk tua pada tengah ladang yang tak digarap lagi.

Karena telah ditinggal oleh pemiliknya yang lelah menunggu hujan.

Hamparan itu kini ditumbuhi batu, tanah yang berupa cadas, dan beberapa rumput liar.

Kemudian ditancapkanlah sebuah papan nama yang bertuliskan, “Tanah milik kami.”

 

Sang pemilik telah merantau ke kota untuk mencari lahan yang lebih subur dan musim yang mendukung.

Sehingga bisa panen beras, sayur mayur, dan ayam yang berlimpah tanpa takut merugi.

Namun, bukan tanah yang dicangkulnya, tapi beton dan besi, yang ditancapkan di atasnya sebuah papan bertuliskan, “Tanah milik perusahaan”.

 

Yogyakarta, 20 Jumadal Ula 1437/ 29 Februari 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s