Tabir Waktu

Hari masih berselimut kabut musim penghujan. Bintik-bintik cahaya langit yang malu pada terangnya cahaya kota bersembunyi di balik awan yang berjalan tergesa. Terkadang terdengar daun yang jatuh, lalu berlarian diterpa angin yang membuat linu sendi-sendi lengan dan kaki. Jalan lebar yang lengang. Rumah-rumah yang ramai oleh cahaya lampu. Hewan-hewan bercengkerama dengan perannya yang unik untuk mempertahankan hidup. Dunia menjelma sesaat seperti ruang kosong, bagai sebuah rumah yang telah lama tak berpenghuni. Di antara kesibukan malam yang berpesta dengan caranya sendiri, muncul di antara sunyi dan kokok ayam, sebuah bayang yang kadang mendekat dan menjauh. Satu persatu pintu terbuka dengan bunyi yang khas. Satu persatu lampu menyala dengan warna putih yang sudah dikenal banyak orang. Lalu mengalir air bagai mata air yang muncul dari pojok-pojok mata. Tiga puluh tiga butir biji jagung berwarna merah tua yang diam lalu bergerak-gerak dan menggelinding, memantul, terajut, hingga membentuk lingkaran.

Tubuh yang masih tegak dan sedikit berotot, tanpa penutup kain yang tebal basah tersentuh bola-bola air yang hinggap di hampir semua daun. Dengan sepasang mata yang tak mudah lelah hadir di setiap penghujung malam. Bila ia memanggil atau berbicara, cukup sekali saja semua telinga mampu mendengarnya dengan jelas.

Cahaya merah telah mendominasi cakrawala, kemudian dengan cepat hilang menghitam. Disusul dengan lampu-lampu jalan yang menyala kuning menggantikan suara camar yang lelah setelah seharian bertengger di atas awan. Beberapa ibu-ibu, bapak-bapak, dan sedikit pemuda serta anak-anak tak langsung pulang setelah menjalankan sholat maghrib berjama’ah di Masjid. Masing-masing membawa Al-Qur’an, Iqro’, atau buku tulis. Ada yang mengaji secara  bersama-sama, bergiliran, saling simak, dan sendiri. Saling bergantian mengisi ruang Masjid antara suara yang keras dan lancar dengan suara yang pelan dan terbata-bata. Pada hari Selasa dan Jum’at kegiatan ini beralih menjadi majelis ilmu, semua mendengar tentang ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan fasih dan indah, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa yang lebih dipahami oleh semua jama’ah.

“Maaf, pak, besok saya tidak bisa mengajar, karena ada kegiatan di luar kota.”, kata Ginanjar kepada sosok bapak-bapak yang seakan telah berjanji untuk istiqomah belajar mengaji kepadanya. Seorang lelaki yang sudah berkepala tiga, namun baru mulai belajar membaca Al-Qur’an, tepatnya jilid dua.

Anak-anak berlari di serambi Masjid berlatar teman-temannya yang asik makan jajanan pedagang keliling. Sebagian masih ditunggu ibunya karena masih terlalu kecil untuk ditinggal sendiri. Mereka segera berlarian masuk ke ruang-ruang kecil yang sudah tertata beberapa meja di dalamnya, ketika terdengar bunyi bel yang tak terlalu keras suaranya. Ada yang berlari karena terlambat. Ada yang masih santai di pangkuan ibunya sambil memainkan robot kecil yang baru dibelinya.

“Hebat, sudah pada sholat Ashar semuanya!!!”, suara khas Ginanjar terdengar hingga ke serambi tempat para orang tua yang sedang asik ngobrol sambil menunggu anak-anaknya. Kemudian terdengar semarak suara anak-anak yang mengikuti aba-abanya.

Beras ditukar dengan uang. Uang ditukar dengan sabun. Pesan ini dan titip itu. Bayar sekarang dan utang dulu. Anak-anak, siswa SMA, mahasiswa, bapak-bapak hingga ibu-ibu dan kakek-kakek mengunjungi rumahnya yang tepat di pinggir jalan. Mereka menukar gula dengan uang, menukar uang dengan sandal, pesan minuman botol, titip jajanan, bayar minyak goreng, dan utang sejumlah kilo beras.

“Mbak, kembalian yang kemarin belum diambil. Ini.”, Ginanjar menjulurkan uang tiga ribu lima ratus rupiah kepada salah satu pelanggannya.

Daun-daun kering terlihat berserakan di halaman rumah dan pinggir jalan protokol. Terkadang terhempas oleh kendaraan yang lewat. Tak jemu secara perlahan sampah-sampah yang sedikit basah oleh siraman air itu dikumpulkan. Sesekali bercampur dengan daun muda yang sempat menghalangi orang untuk lewat. Tak lebih dari satu jam, halaman itu tampak bersih dan tak menerbangkan debu lagi.

“Ibu, ini ada sedikit kardus dan botol.”, sambil membuang sampah yang ditariknya dengan gerobak, ia sempatkan untuk memberikan barang-barang bekas yang sudah menumpuk di rumahnya kepada pemulung yang biasa mengais rezeki di tempat berbau dan kotor.

Ia masih duduk setelah sholat dua raka’atnya. Ibu jarinya bergerak naik turun menyentuh jari yang lain. Terkadang ia tengadahkan wajahnya, seakan berharap tentang sesuatu yang menjadi citanya. Suara adzan mulai bermunculan dari berbagai macam penjuru langit. Ia terbangun dari duduknya yang membatu, lalu mengumandangkan adzan dengan suara yang indah meliuk-liuk menghampiri setiap rumah di sekitar Masjid. Namun, beberapa rumah saja yang membukakan pintu untuknya, selebihnya hanya mempersilahkan untuk duduk di depan rumah dengan ditemani satu atau dua lampu. Hingga fajar menyingsing, membuat dirinya sesaat berputus asa namun tak pernah berhenti untuk mengajak.

“Setiap hari, selalu begini.”, gumam Ginanjar.

Kini, hari masih berselimut kabut musim penghujan. Bintik-bintik cahaya langit yang malu pada terangnya cahaya kota bersembunyi di balik awan yang berjalan tergesa. Terkadang terdengar daun yang jatuh, lalu berlarian diterpa angin yang membuat linu sendi-sendi lengan dan kaki. Jalan lebar yang lengang. Rumah-rumah yang ramai oleh cahaya lampu. Hewan-hewan bercengkerama dengan perannya yang unik untuk mempertahankan hidup. Dunia menjelma sesaat seperti ruang kosong, bagai sebuah rumah yang telah lama tak berpenghuni. Di antara kesibukan malam yang berpesta dengan caranya sendiri, muncul di antara sunyi dan kokok ayam, sebuah bayang yang kadang mendekat dan menjauh. Satu persatu pintu terbuka dengan bunyi yang khas. Satu persatu lampu menyala dengan warna putih yang sudah dikenal banyak orang. Lalu mengalir air bagai mata air yang muncul dari pojok-pojok mata. Tiga puluh tiga butir biji jagung berwarna merah tua yang diam lalu bergerak-gerak dan menggelinding, memantul, terajut, hingga membentuk lingkaran.

Ia hampir tak pernah absen sholat isya’ berjama’ah lalu mengaji ba’da maghrib di Masjid. Ia menyambi sebagai guru mengaji setiap sore kecuali hari Ahad. Bukan untuk mencari tambahan penghasilan, karena anak-anak harus dibebaskan dari buta membaca Al-Qur’an dan dijaga dari pengaruh lingkungan yang penuh nilai-nilai kotor. Ia pun aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Pendapatannya bersumber dari hasil penjualan barang toko sembakonya yang lumayan laris. Bila tak ada kardus bekas di rumah, ia ganti dengan sebungkus nasi untuk diberikan kepada pemulung yang biasa ia temui di tempat pembuangan sampah. Lalu membersihkan halaman rumahnya sebelum ia berangkat ke Masjid untuk sholat subuh. Terjaga di akhir malam menjadi kebiasaannya, dan tidurnya tak pernah lebih dari lima jam. Begitulah hidupnya yang penuh berbagai macam aktivitas, mulai sebelum terbenamnya matahari hingga setelah terbenamnya.

Tidak ada lagi tubuh yang tegak dan sedikit berotot, tanpa penutup kain yang tebal basah tersentuh bola-bola air yang hinggap di hampir semua daun. Tidak ada lagi sepasang mata yang tak mudah lelah hadir disetiap penghujung malam. Tidak ada lagi panggilan atau suara, cukup sekali semua telinga mampu mendengarnya dengan jelas.

Tapi, ia Ginanjar, selalu sempatkan untuk bangun dan terjaga di setiap akhir malam. Meninggalkan pelukan hangat istrinya, pergi menghampiri pelukan malam yang dingin. Ia berjalan di bawah cahaya lampu jalan, membuatnya kadang terlihat dan kadang menghilang. Lalu tubuhnya perlahan terlihat samar dan menyatu bersama gelapnya malam, kemudian benar-benar hilang, lenyap menguap terbawa angin. Tak ada seorang pun yang tahu keberadaannya. Entah ia pergi kemana dan apa yang dilakukannya. Ia kembali seiring padamnya lampu-lampu jalan. Bintik-bintik cahaya seperti kunang-kungan muncul dari dalam tanah, berkumpul kemudian  membentuk tubuhnya, lalu terciptalah bayang dirinya yang panjang.

Konon, ia pergi menyelami dunia orang mati untuk mendapatkan hidup baru. Karena selama ini ia hidup dalam bayang-bayang. Tak pernah merasakan sebenar-benarnya hidup. Hidup dalam ketertipuan. Hidup dalam berbagai macam peran tanpa tujuan yang pasti. Hidup yang bagai melakukan perjalanan dengan banyak bekal yang melelahkan.

Ia menyaksikan dengan matanya yang perlahan memutih dan kabur, kulitnya mulai mengeriput dengan cepat. Rambutnya memutih. Pendengarannya menjadi samar. Ketika ia beranjak berdiri pun terasa susah. Tangannya harus memegang sesuatu untuk menuntunnya ia berjalan. Suaranya sedikit serak dan lemah. Kantung matanya mulai terlihat jelas. Giginya pun berjatuhan hingga hanya beberapa yang masih tersisa di mulutnya.

Ginanjar sudah lama tersadar bahwa dirinya, siapa pun, tidak akan bisa menembus kembali ke masa lalu. Namun, pada setiap akhir malam ia selalu pergi di bawah cahaya rembulan yang menciptakan bayang-bayang masa lalu. Dengan bermandikan air mata ia mengubah dirinya menjadi seperti saat empat puluh tahun yang lalu. Ia memegang dengan erat setiap nafas yang menjadi pertanda suatu kehidupan, agar tak sedikit pun waktu yang bergerak meninggalkannya dengan sia-sia. Air matanya yang tak bisa bertahan lama dan tak lebih dari satu mangkuk, dengan segera menguap menjadi buti-butir embun yang putih, lalu terhempas berhamburan oleh kepak sayap camar. Mimpinya hanya bertahan satu malam dari sekian ribu malam yang terelakkan.

Ia tidak sedang bermimpi, karena untuk sholat pun banyak bolongnya. Mengaji pun masih tersendat-sendat apalagi mengajarkannya. Zakat yang ia keluarkan tak pernah dihitung, hanya ala kadarnya mengeluarkan hartanya untuk disumbangkan ke acara bakti sosial. Tokonya sudah memiliki tiga cabang, menjual beraneka macam kebutuhan pokok. Ia lebih suka membayar orang atau denda ketika kegiatan kerja bakti dilaksanakan di RT-nya. Ia berdalih karen alasan pekerjaan sehingga ia tak ada waktu untuk kegiatan yang dianggapnya remeh itu.

Itulah yang selama ini menjadi kunci pembuka pintu-pintu malam yang selalu di laluinya dengan penuh renungan dan kesendirian. Kunci yang selalu membangunkannya di setiap akhir malam. Dari pintu-pintu itu, ia berharap menemukan jalan untuk membuka tabir waktu.

Yogyakarta, 8 Dzulhijjah 1435/ 2 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s