Kamu

Ana, kau selalu mengajakku untuk ke luar rumah dan itu hampir setiap malam. Sebelum teh panas kau habiskan, kau sudah beranjak ke luar pintu dan membiarkannya tetap terbuka. Lalu kau panggil namaku. Dan bergegaslah aku mengikutimu dari belakang. Kakimu yang kecil, tanganmu yang lemah, dan tubuhmu yang tak tahan dingin selalu kau paksakan. Malam ini … Continue reading Kamu

Ketujuh

Di sini hanya ada embun pagi dan beberapa sisa hujan semalam Mungkin sebentar lagi kau akan temui dia Tunggulah sambil menikmati segelas kopi dan beberapa potong roti.   Yogyakarta, 15 Sya’ban 1437/ 23 Mei 2016.

Keenam

Kasih, masihkah kau duduk di pelataran pohon-pohon cemara pucuknya menyanyikan lagu kesukaanmu ketika lembah berubah merah oleh redup cahaya cinta kita? Jangan engkau terlalu lama menunggu hingga kabut benar-benar membawamu dan tak kujumpai lagi pada telekan kita bertemu Aku memang tak lagi di sini di hatimu yang lelah sudahlah, tak lagi kujumpai pohon-pohon cemara itu … Continue reading Keenam

Kelima

Jiwa ini telah rapuh bagai gubuk tua pada tengah ladang yang tak digarap lagi. Karena telah ditinggal oleh pemiliknya yang lelah menunggu hujan. Hamparan itu kini ditumbuhi batu, tanah yang berupa cadas, dan beberapa rumput liar. Kemudian ditancapkanlah sebuah papan nama yang bertuliskan, “Tanah milik kami.”   Sang pemilik telah merantau ke kota untuk mencari … Continue reading Kelima

Keempat

Hujan di akhir bulan Januari Kurasakan engkau rebah di sebelahku Pada gubuk kecil di sebuah pelataran Sedikit angin membawa gerimis masuk Engkau semakin mendekap dalam hangat   Hujan di akhir bulan Januari Kudengar tangismu yang berderu Dalam imajinasiku yang tak biasa Sudah cukuplah sedihmu Di sini ingin ku meloncat ke sana   Hujan di akhir … Continue reading Keempat

Tabir Waktu

Hari masih berselimut kabut musim penghujan. Bintik-bintik cahaya langit yang malu pada terangnya cahaya kota bersembunyi di balik awan yang berjalan tergesa. Terkadang terdengar daun yang jatuh, lalu berlarian diterpa angin yang membuat linu sendi-sendi lengan dan kaki. Jalan lebar yang lengang. Rumah-rumah yang ramai oleh cahaya lampu. Hewan-hewan bercengkerama dengan perannya yang unik untuk … Continue reading Tabir Waktu

Ketiga

Koran-koran beterbaran di trotoar dan tengah jalan tiba-tiba hilang dilalap asap jalanan ingin kabarkan tentang berita pembunuhan, perampokan, dan pemerkosaan. Suara radio menyelinap di sela gang-gang perkampungan tertangkap basah sedang mengabarkan tentang pembakaran hutan, pertambangan liar, dan sungai yang tercemar. Banyak kehidupan didaur ulang di layar membungkan cengkerama rumah tangga menayangkan perseteruan, tawuran, dan perceraian. … Continue reading Ketiga

Kedua

Anak perempuan di dalam jarik Diikat punggung bunda renta Tongkat kosak-kasik Sayang rezeki dibuang. Kalian kejam memberi uang Menulis yang bukan-bukan Tak tahu kami kemana pulang Mengadu nasib pemberian Tuhan. Anak kecil berambut ikal Bersembunyi di balik punggung kekar Pandangannya tersenyum licik Menipu hidupnya tercekik. Perempuan kecil bermain di dalam jarik Sebab ibunya kosak-kasik. Yogyakarta, … Continue reading Kedua

Pertama

Ibu beranak perempuan lima jumlahnya Menunggu di pinggir jalan janji Tuhan Kadang hujan dan sengatan beratap terpal Banyak orang datang membuang lapar. Putra tunggal adalah angsa putih Beranjak pulang karena hari sudah letih Sebab bunda terlalu penuh kasih Membisikkan malam agar berdesuh lirih. Tiba waktu sholat Kini hari panas amat Ibu beranak lima pulang Melanjutkan … Continue reading Pertama